Sunday, July 31, 2016

BENTENG KERAJAAN LAMAJANG KUNO

Situs Biting Yang Sangat Berharga bagi Sejarah LumajangKabupaten   Lumajang terletak 112’53’- 113’23’ BT  7’54’- 8’23’ LS. Nama Lumajang   berasal dari kata Lamajang dari pengumpulan data-data tertulis yaitu   Prasasti Mula Malurung,Naskah Negarakertagama, Kitab Pararaton, Kitab   pujangga Manik, serat Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.

Prasasti  Mula Malurung ditemukan di  Kediri tahun 1975 yang berangka tahun 1177  Saka atau 1255 Masehi  Prasasti ini berupa Lempengan tembaga yang  terdiri dari 12 lempeng, pada  lempeng ke VII halaman a baris ke 1-3  menyebutkan ”Sira Nararyya  Sminingrat, pinralista juru lamajang  pinasangaken jagat palaku ngkaneng  nagara lamajang” yang artinya bahwa  Beliau Nararya Seminingrat yang  diperkirakan Wisnuwardhana (Raja  Singhasari) ditetapkan sebagai Juru  Lamajang diangkat menjadi Pelindung  Dunia di Negara Lumajang.

Prasasti ini juga menyebutkan bahwa pada  tahun 1255 Paduka Sri  Maharaja Seminingrat (Wisnuwardhana)menobatkan  putranya  Nararya Kirana  untuk memimpin Lumajang. Berdasarkan etimologi  rakyat Lumah artinya  Rumah dan Jang dari kata Yang (Hyang) artinya Dewa,  jadi  Rumah Dewa  yang disucikan, selain itu nama Lumajang dikaitkan  dengan sejenis nama  tanaman yang tumbuh di wilayah ini.



Pada  tahun 1295  Arya Wiraraja mendapatkan bagian sebelah timur  dengan  Lumajang sebagai ibukotanya dan beliau menetap di Lumajang.    (Anonim,  Babad Negara Kertagama). Dalam membangun ibu kota kerajaan  yang baru ini  Arya Wiraraja sebagai seorang negarawan yang  berpengalaman telah  mempersiapkan letak ibu kota dengan baik. Pertama  yang dipilih adalah  daerah dengan dilindungi benteng dari alam yaitu  dikelilingi sungai  (Sungai Bondoyudo, Sungai Ploso dan sungai Winong)  dan supaya lebih  lengkap dibikin juga sungai buatan yaitu sungai  Cangkring. Demikian juga  pertahanan benteng ibu kota dibangun dari batu  bata sepanjang 10 km  dengan ketebalan 6 meter dan tinggi 8 meter. Hal  ini dapat kita lihat di  dusun Biting sekarang. Disamping itu Arya  Wiraraja mepersiapkan  daerah-daerah penyangga ibu kota seperti gerbang  pertahan Pajarakan di  Randu Agung dan daerah basis pertanian disebelah  selatang yang subur dan  meliputi daerahdaerah yang sekarang di wilayah  kecamatan Sukodono,  Kecamatan Lumajang dan Kecamatan Padang.



Pada tahun 1316 M Arya  Wiraraja meninggal dan Patih Nambi pulang ke  Lumajang. Ia kemudian   difitnah oleh Mahapatih akan memberontak pada  Majapahit. Raja Jayanegara  berangkat ke Lumajang dan merebut benteng  Pajarakan, Patih Nambi  beserta sanak saudaranya mati terbunuh. Para  pembesar Majapahit yang  menjadi korban Perang Lamajangadalah :  Pamandana, Mahisa Pawagal, Panji  Anengah, Panji Samara, Panji  Wiranagari,jaran Bangkal, Jangkung, Teguh,  Sami, Lasem dan Emban yang  semuanya merupakan Pengadean (pengikut) dari  Raden Wijaya. Perang besar  ini kemudian disebut Perang Lamajang.  (Anonim, Babad Negara  Kertagama).



Setelah Perang Lamajang tahun  1316 M ini kerajaan Lamajang mulai  dibawah kekuasaan Majapahit dan  diperkirakan Raja-raja Majapahit  menempatkan keluarganya untuk  memperistri keluarga dan keturunan Arya  Wiraraja sehingga dapat meredam  daerah yang menjadi sumber  pemberontakan tersebut. Dalam Negarakertagama  karangan Mpu Prapanca,  kota Lumajang banyak disinggung perjalanan  keliling raja Hayam Wuruk  pada tahun 1360 M untuk melakukan upacara  menghormati leluhurnya. Pada  masa Majapahit akhir, Majapahit kemudian  terbagi 2 yaitu Majapahit  barat dan Majapahit Timur yang kemudian  menimbulkan Perang Paregreg  (1404 M-1428 M). Pada masa ini Lumajang juga  memainkan peranannya yang  penting sebagai pusat Majapahit Timur dan  pemberontakan Bhre Wirabhumi  seorang putera Hayam Wuruk dari selir  (anonim,1957). Setelah Majapahait  runtuh oleh demak pada tahun 1500-an,  Lumajang memainkan peranannya  sebagai kerajaan yang tidak tunduk pada  pemerintahan Demak dan Mataram.  Baru pada tahun 1625-an dimana serangan   ketiga kalinya Sultan Agung  dari Mataram bisa menundukkan benteng  Kutorenon dan membakar kotanya  sehingga benteng itu disebut Kutorenon  (asal kata Madura dari ketonon  yang artinya terbakar).



Situs Biting Yang Sangat Berharga bagi Sejarah LumajangKabupaten   Lumajang terletak 112’53’- 113’23’ BT  7’54’- 8’23’ LS. Nama Lumajang   berasal dari kata Lamajang dari pengumpulan data-data tertulis yaitu   Prasasti Mula Malurung,Naskah Negarakertagama, Kitab Pararaton, Kitab   pujangga Manik, serat Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda.

Prasasti  Mula Malurung ditemukan di  Kediri tahun 1975 yang berangka tahun 1177  Saka atau 1255 Masehi  Prasasti ini berupa Lempengan tembaga yang  terdiri dari 12 lempeng, pada  lempeng ke VII halaman a baris ke 1-3  menyebutkan ”Sira Nararyya  Sminingrat, pinralista juru lamajang  pinasangaken jagat palaku ngkaneng  nagara lamajang” yang artinya bahwa  Beliau Nararya Seminingrat yang  diperkirakan Wisnuwardhana (Raja  Singhasari) ditetapkan sebagai Juru  Lamajang diangkat menjadi Pelindung  Dunia di Negara Lumajang.

Prasasti ini juga menyebutkan bahwa pada  tahun 1255 Paduka Sri  Maharaja Seminingrat (Wisnuwardhana)menobatkan  putranya  Nararya Kirana  untuk memimpin Lumajang. Berdasarkan etimologi  rakyat Lumah artinya  Rumah dan Jang dari kata Yang (Hyang) artinya Dewa,  jadi  Rumah Dewa  yang disucikan, selain itu nama Lumajang dikaitkan  dengan sejenis nama  tanaman yang tumbuh di wilayah ini.



Pada  tahun 1295  Arya Wiraraja mendapatkan bagian sebelah timur  dengan  Lumajang sebagai ibukotanya dan beliau menetap di Lumajang.    (Anonim,  Babad Negara Kertagama). Dalam membangun ibu kota kerajaan  yang baru ini  Arya Wiraraja sebagai seorang negarawan yang  berpengalaman telah  mempersiapkan letak ibu kota dengan baik. Pertama  yang dipilih adalah  daerah dengan dilindungi benteng dari alam yaitu  dikelilingi sungai  (Sungai Bondoyudo, Sungai Ploso dan sungai Winong)  dan supaya lebih  lengkap dibikin juga sungai buatan yaitu sungai  Cangkring. Demikian juga  pertahanan benteng ibu kota dibangun dari batu  bata sepanjang 10 km  dengan ketebalan 6 meter dan tinggi 8 meter. Hal  ini dapat kita lihat di  dusun Biting sekarang. Disamping itu Arya  Wiraraja mepersiapkan  daerah-daerah penyangga ibu kota seperti gerbang  pertahan Pajarakan di  Randu Agung dan daerah basis pertanian disebelah  selatang yang subur dan  meliputi daerahdaerah yang sekarang di wilayah  kecamatan Sukodono,  Kecamatan Lumajang dan Kecamatan Padang.



Pada tahun 1316 M Arya  Wiraraja meninggal dan Patih Nambi pulang ke  Lumajang. Ia kemudian   difitnah oleh Mahapatih akan memberontak pada  Majapahit. Raja Jayanegara  berangkat ke Lumajang dan merebut benteng  Pajarakan, Patih Nambi  beserta sanak saudaranya mati terbunuh. Para  pembesar Majapahit yang  menjadi korban Perang Lamajangadalah :  Pamandana, Mahisa Pawagal, Panji  Anengah, Panji Samara, Panji  Wiranagari,jaran Bangkal, Jangkung, Teguh,  Sami, Lasem dan Emban yang  semuanya merupakan Pengadean (pengikut) dari  Raden Wijaya. Perang besar  ini kemudian disebut Perang Lamajang.  (Anonim, Babad Negara  Kertagama).

 Setelah Perang Lamajang tahun  1316 M ini kerajaan Lamajang mulai  dibawah kekuasaan Majapahit dan  diperkirakan Raja-raja Majapahit  menempatkan keluarganya untuk  memperistri keluarga dan keturunan Arya  Wiraraja sehingga dapat meredam  daerah yang menjadi sumber  pemberontakan tersebut. Dalam Negarakertagama  karangan Mpu Prapanca,  kota Lumajang banyak disinggung perjalanan  keliling raja Hayam Wuruk  pada tahun 1360 M untuk melakukan upacara  menghormati leluhurnya. Pada  masa Majapahit akhir, Majapahit kemudian  terbagi 2 yaitu Majapahit  barat dan Majapahit Timur yang kemudian  menimbulkan Perang Paregreg  (1404 M-1428 M). Pada masa ini Lumajang juga  memainkan peranannya yang  penting sebagai pusat Majapahit Timur dan  pemberontakan Bhre Wirabhumi  seorang putera Hayam Wuruk dari selir  (anonim,1957). Setelah Majapahait  runtuh oleh demak pada tahun 1500-an,  Lumajang memainkan peranannya  sebagai kerajaan yang tidak tunduk pada  pemerintahan Demak dan Mataram.  Baru pada tahun 1625-an dimana serangan   ketiga kalinya Sultan Agung  dari Mataram bisa menundukkan benteng  Kutorenon dan membakar kotanya  sehingga benteng itu disebut Kutorenon  (asal kata Madura dari ketonon  yang artinya terbakar).



Situs Biting



 Situs  Biting dibawah administratif Dusun Biting, Desa Kutorenon  Kecamatan  Sukodono Kabupaten Lumajang.  Kata Biting berasal dari  “Benteng” yaitu  bangunan pertahanan dari serangan musuh. Luas Dusun 135  hektar merupakan  dataran rendah yang dikelilingi 4 Sungai yaitu  sebelah Utara Sungai  Bondoyudho, sebelah Timur Sungai Bodang/ Winong,  sebelah selatan sungai  Cangkring, dan sebelah Barat Sungai Ploso. Areal  Situs yang sebagian  besar merupakan lahan pertanian padi dan tebu  sebelah Timur dan Barat  Laut, 25% areal pemukiman penduduk dan sebagian  lagi areal peninggalan  Situs Biting merupakan sisa dari gundukan  diperkirakan dinding benteng  di tepian sungai yang mengelilingi situs.



Riwayat penelitian  Situs Biting pertama kali ditemukan  oleh J.  Mageman ketika melakukan  peninjaun 1861, selanjutnya dilakukan  penelitian oleh A. Muhlenfeld  tahun 1920 dan tahun 1923 dilakukan  penggalian percobaan. Oleh dinas  purbakala Belanda dilakukan pemotretan  tembok benteng sebelah selatan  makam Menak Koncar.Tahun 1982  Kandepdikbud Kabupaten Lumajang melaporkan  situasi Situs Biting. Maka  dilakukan penelitian lanjutan  Balai  Arkeologi Yogyakarta dengan  ekskavasi 11 tahap dari tahun  1982-1991.        



Sejarah Biting ini diperkirakan berhubungan  masa kekuasaan Arya  Wiraraja dan Menak Koncar. Menurut cerita rakyat  Arya Wiraraja (Banyak  Wide) mempunyai 2 Putra yaitu, Nambi yang diangkat  Mahapatih di  Majapahit, dan Arya Pinatih yang memerintah di kerajaan  Gelgel Bali.  Situs Biting adalah bangunan Benteng untuk menahan serangan  musuh.  Menak Koncar tokoh legendaris yang merupakan penguasa di  Lumajang yang  sangat berpengaruh. Diperkirakan kekuasaannya pada akhir  masa kerajaan  Majapahit( anonim, 1985). Daerah kekuasaan Menak Koncar  terkenal dengan  sebutan Lumajang Tigang Juru yang meliputi wilayah  Lumajang, Panarukan  dan Blambangan yang juga merupakan bekas wilayah  kekuasaan Arya  Wiraraja.



Pada masa kekuasaan Islam  dari kerajaan  Mataram wilayah Lumajang  Tigang Juru direbut. Daerah  sebelah timur  Lumajang dan Kuto Renong  ditaklukan oleh Tumenggung Alap-Alap(anonim,  1941). Penyebutan Kuto  Renong, Lumajang dan sekitarnya pada babad dan  sumber-sumber berkisar  abad 14-17 Masehi. Data penanggalan hasil survei  dan ekskavasi berupa  temuan fragmen keramik menunjukkan abad 14-20  Masehi.



Serangkaian data tentang Situs Biting ini menunjukkan  bahwa Situs  Biting merupakan daerah penting. Masa kekuasaan Arya  Wiraraja  diperkirakan Biting sebagai pusat pemerintahan, Secara logika  apabila  suatu wilayah dibentengi atau dilindungi oleh benteng  pertahanan, maka  wilayah tersebut merupakan wilayah yang penting atau  wilayah dimana  penguasa dan keluarga serta tokoh-tokoh yang berdiam diri  atau  bertempat tinggal. Dan tokoh-tokoh ini mempunyai pengaruh besar  bagi  masyarakat pada umumnya dan kekuasaan Majapahit khususnya.



Arti Penting Situs Biting dan Sejarah Lumajang bagi Generasi Muda

Kabupaten Lumajang adalah sebuah kota  kecil pada masa pemerintahan  kolonal belanda hingga Republik Indonesia.  Menurunnya arti penting kota  ini dikarenakan aktivitas dan dinamika  politik masa lalu yang begitu  tinggi dan kerap menjadi pusat pergola  daerah (pemberontakan) yang  mampu membuat pemerintah pusat goyah. Kita  melihat Lumajang berperan  penting mulai masa kerajaan Singhasari (tahun  1250-an), masa Kerajaan  Majapahit (1300-1500), masa pemerintahan Demak  dan Pajang (1500-1600)  dan awal Kerajaan Mataram Islam. Arti penting  daerah Lumajang ini  mungkin karena punya potensi ekonomi yang kaya  sumber alam dan juga  tempat para polotisi-politisi yang tidak mau tunduk  pada aturan pusat.  Hal ini sesuai dengan cita-cita pendirian Luamajang  oleh Arya Wiraraja  sebagai Kerajaan merdeka. Mungkin salah satu  pertimbangan Pemerintah  Kolonial Belanda tidak mau menjadikan Lumajang  ini menjadi kota penting  adalah karena riwayat pemberontakan yang begitu  panjang tersebut.  Setelah memutuskan sejarah Lumajang menjadi kota yang  hilang tersebut  (Lumajang the Lost City) maka di masa Republik  Indonesia, Kabupaten  Lumajang menjadi semakin kehilangan jati diri dan  perkembangannya kalah  oleh Kabupaten-kabupaten sekitarnya.



Nah,  sejarah Lumajang mulai dirintis kembali. Penghancuran Situs  Biting tidak  hanya menjadi perhatian lokal tapi juga nasional,  pemikiran Arya  Wiraraja sebagai pendiri Lumajang dan Majapahit Timur  yang merdeka sudah  mulai digali. Apakah masyarakat mau membangun jati  diri Lumajang yang  sebenarnya dimana kota ini pernah melahirkan pemikir  dan tokoh nasional  seperti Arya Wiraraja, Patih Nambi, Menak Koncar  maupun Bhre Wirabhumi.  Sekarang tinggal warga dan generasi muda  Lumajang, apakah mau bangkit  dengan menyelamatkan sejarah kota dan jati  dirinya atau diam berpangku  tangan sambil pasrah akan keterpurukan  Lumajang yang tak terelakkan.



Oleh : Aries Purwantiny, SS. (Seksi Penelitian dan Pengembangan  Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur di Lumajang)

 Situs  Biting dibawah administratif Dusun Biting, Desa Kutorenon  Kecamatan  Sukodono Kabupaten Lumajang.  Kata Biting berasal dari  “Benteng” yaitu  bangunan pertahanan dari serangan musuh. Luas Dusun 135  hektar merupakan  dataran rendah yang dikelilingi 4 Sungai yaitu  sebelah Utara Sungai  Bondoyudho, sebelah Timur Sungai Bodang/ Winong,  sebelah selatan sungai  Cangkring, dan sebelah Barat Sungai Ploso. Areal  Situs yang sebagian  besar merupakan lahan pertanian padi dan tebu  sebelah Timur dan Barat  Laut, 25% areal pemukiman penduduk dan sebagian  lagi areal peninggalan  Situs Biting merupakan sisa dari gundukan  diperkirakan dinding benteng  di tepian sungai yang mengelilingi situs.



Riwayat penelitian  Situs Biting pertama kali ditemukan  oleh J.  Mageman ketika melakukan  peninjaun 1861, selanjutnya dilakukan  penelitian oleh A. Muhlenfeld  tahun 1920 dan tahun 1923 dilakukan  penggalian percobaan. Oleh dinas  purbakala Belanda dilakukan pemotretan  tembok benteng sebelah selatan  makam Menak Koncar.Tahun 1982  Kandepdikbud Kabupaten Lumajang melaporkan  situasi Situs Biting. Maka  dilakukan penelitian lanjutan  Balai  Arkeologi Yogyakarta dengan  ekskavasi 11 tahap dari tahun  1982-1991.        

 Sejarah Biting ini diperkirakan berhubungan  masa kekuasaan Arya  Wiraraja dan Menak Koncar. Menurut cerita rakyat  Arya Wiraraja (Banyak  Wide) mempunyai 2 Putra yaitu, Nambi yang diangkat  Mahapatih di  Majapahit, dan Arya Pinatih yang memerintah di kerajaan  Gelgel Bali.  Situs Biting adalah bangunan Benteng untuk menahan serangan  musuh.  Menak Koncar tokoh legendaris yang merupakan penguasa di  Lumajang yang  sangat berpengaruh. Diperkirakan kekuasaannya pada akhir  masa kerajaan  Majapahit( anonim, 1985). Daerah kekuasaan Menak Koncar  terkenal dengan  sebutan Lumajang Tigang Juru yang meliputi wilayah  Lumajang, Panarukan  dan Blambangan yang juga merupakan bekas wilayah  kekuasaan Arya  Wiraraja.

 Pada masa kekuasaan Islam  dari kerajaan  Mataram wilayah Lumajang  Tigang Juru direbut. Daerah  sebelah timur  Lumajang dan Kuto Renong  ditaklukan oleh Tumenggung Alap-Alap(anonim,  1941). Penyebutan Kuto  Renong, Lumajang dan sekitarnya pada babad dan  sumber-sumber berkisar  abad 14-17 Masehi. Data penanggalan hasil survei  dan ekskavasi berupa  temuan fragmen keramik menunjukkan abad 14-20  Masehi.



Serangkaian data tentang Situs Biting ini menunjukkan  bahwa Situs  Biting merupakan daerah penting. Masa kekuasaan Arya  Wiraraja  diperkirakan Biting sebagai pusat pemerintahan, Secara logika  apabila  suatu wilayah dibentengi atau dilindungi oleh benteng  pertahanan, maka  wilayah tersebut merupakan wilayah yang penting atau  wilayah dimana  penguasa dan keluarga serta tokoh-tokoh yang berdiam diri  atau  bertempat tinggal. Dan tokoh-tokoh ini mempunyai pengaruh besar  bagi  masyarakat pada umumnya dan kekuasaan Majapahit khususnya.

 Arti Penting Situs Biting dan Sejarah Lumajang bagi Generasi Muda
 Kabupaten Lumajang adalah sebuah kota  kecil pada masa pemerintahan  kolonal belanda hingga Republik Indonesia.  Menurunnya arti penting kota  ini dikarenakan aktivitas dan dinamika  politik masa lalu yang begitu  tinggi dan kerap menjadi pusat pergola  daerah (pemberontakan) yang  mampu membuat pemerintah pusat goyah. Kita  melihat Lumajang berperan  penting mulai masa kerajaan Singhasari (tahun  1250-an), masa Kerajaan  Majapahit (1300-1500), masa pemerintahan Demak  dan Pajang (1500-1600)  dan awal Kerajaan Mataram Islam. Arti penting  daerah Lumajang ini  mungkin karena punya potensi ekonomi yang kaya  sumber alam dan juga  tempat para polotisi-politisi yang tidak mau tunduk  pada aturan pusat.  Hal ini sesuai dengan cita-cita pendirian Luamajang  oleh Arya Wiraraja  sebagai Kerajaan merdeka. Mungkin salah satu  pertimbangan Pemerintah  Kolonial Belanda tidak mau menjadikan Lumajang  ini menjadi kota penting  adalah karena riwayat pemberontakan yang begitu  panjang tersebut.  Setelah memutuskan sejarah Lumajang menjadi kota yang  hilang tersebut  (Lumajang the Lost City) maka di masa Republik  Indonesia, Kabupaten  Lumajang menjadi semakin kehilangan jati diri dan  perkembangannya kalah  oleh Kabupaten-kabupaten sekitarnya.

 Nah,  sejarah Lumajang mulai dirintis kembali. Penghancuran Situs  Biting tidak  hanya menjadi perhatian lokal tapi juga nasional,  pemikiran Arya  Wiraraja sebagai pendiri Lumajang dan Majapahit Timur  yang merdeka sudah  mulai digali. Apakah masyarakat mau membangun jati  diri Lumajang yang  sebenarnya dimana kota ini pernah melahirkan pemikir  dan tokoh nasional  seperti Arya Wiraraja, Patih Nambi, Menak Koncar  maupun Bhre Wirabhumi.  Sekarang tinggal warga dan generasi muda  Lumajang, apakah mau bangkit  dengan menyelamatkan sejarah kota dan jati  dirinya atau diam berpangku  tangan sambil pasrah akan keterpurukan  Lumajang yang tak terelakkan.

 Oleh : Aries Purwantiny, SS. (Seksi Penelitian dan Pengembangan  Masyarakat Peduli Peninggalan Majapahit Timur di Lumajang)

No comments:

Post a Comment