Monday, August 1, 2016

Sekelumit Madura Barat (Hindu Budha)

adanya
pernyataan Tome Pires (1944 : 227) yang mengatakan, pada permulaan
dasawarsa abad 16, raja Madura belum masuk Islam. Dan dia adalah seorang
bangsawan mantu Gusti Pate dari Majapahit.

Pernyataan
itu diperkuat dengan adanya temuan – temuan arkeologis, baik yang
bernafaskan Hindu dan Bhudda. Temuan tersebut ditemukan di Desa
Kemoning, berupa sebuah lingga yang memuat inskripsi. Sayangnya, tidak
semua baris kalimat dapat terbaca. Dari tujuh baris yang terdapat di
lingga tersebut, pada baris pertama tertulis, I Caka 1301 (1379 M), dan
baris terakhir tertulis, Cadra Sengala Lombo, Nagara Gata Bhuwana Agong
(Nagara: 1, Gata: 5, Bhuwana: 1, Agong: 1) bila dibaca dari belakang,
dapat diangkakan menjadi 1151 Caka 1229 M.

Temuan
lainnya berupa fragmen bangunan kuno, yang merupakan situs candi. Oleh
masyarakat setempat dianggap reruntuhan kerajaan kecil. Juga ditemukan
reruntuhan gua yang dikenal masyarakat dengan nama Somor Dhaksan,
lengkap dengan candhra sengkala memet bergambar dua ekor kuda mengapit
raksasa.

Berangkat
dari berbagai temuan itulah, diperoleh gambaran bahwa antara tahun 1105
M sampai 1379 M atau setidaknya masa periode Singasari dan Majapahit
akhir, terdapat adanya pengaruh Hindu dan Bhudda di Madura barat.

Sementara
temuan arkeologis yang menyatakan masa klasik Bangkalan, ditemukan di
Desa Patengteng, Kecamatan Modung, berupa sebuah arca Siwa dan sebuah
arca laki-laki. Sedang di Desa Dlamba Daja dan Desa Rongderin, Kecamatan
Tanah Merah, terdapat beberapa arca, di antaranya adalah arca Dhayani
Budha.

Temuan
lainnya berupa dua buah arca ditemukan di Desa Sukolilo Barat Kecamatan
Labang. Dua buah arca Siwa lainnya ditemukan di pusat kota Bangkalan.
Sementara di Desa Tanjung Anyar Bangkalan ditemukan bekas Gapura, pintu
masuk kraton kuno yang berbahan bata merah.

No comments:

Post a Comment