Sunday, August 7, 2016

SUNAN LAWU

MENGGUNAKAN POTENSI CERITA TUTUR 
ada cerita tutur di gunung lawu yang kontroversial, mengenai SUNAN LAWU yang dipercaya sebagai sosok Brawijaya 5 yang masuk islam lalu menjadi sunan. kita memang mendukung cerita tutur sebagai kazhanah budaya untuk memperkaya sastra, akan tetapi jika hal itu dikoordinasikan silang dengan sejarah kemudian bertentangan, maka kita harus maklum. kita harus bisa menerima mana sejarah sebagai hasil penelitian dan merupakan ilmu yang dipergunakan untuk sekolah atau kuliah sejarah, dan mana yang cerita tutur legenda dari suatu wilayah.
kita bisa bangga kalau kita berasal dari wilayah yang melahirkan kisah malin kundang, sangkuriang, bandung bondowoso, dan lain2. tapi kita harus paham dari legenda itu mana yang memang ada dalam ilmu sejarah dan mana yang bukan. dalam prasasti maupun kakawin tidak pernah ada raja yang majapahit yang bernama brawijaya, apalagi raja yang menggunakan angka 5 tersebut. sebutan brawijaya bisa jadi ditulis oleh pujangga kuno pertengahan dari nama bathara wijaya yang pernah disebut oleh tome pires pelaut portugis. penggunaan angka itu bisa jadi terpengaruh raja2 belanda willem 1,2,3 dan seterusnya, sehingga mempengaruhi penamaan raja2 jogja dari sultan Hamengkubuwono 1,2,3, dan seterusnya. itu tulisan pujangga masa mataram baru, bukan nama yang asli pada ilmu sejarah. jika rujukan brawijaya itu adalah bhre kertabumi, maka bhre kertabumi meninggal di istana sesuai dengan babad pararaton. jika rujukan brawikaya 5 itu adalah girindrawardhana, maka girindrawardhana juga meninggal di istana ketika istana majapahit berpindah ke daha.
cerita tutur berperan dalam sastra, memperkaya seni menulis dan keindahannya, pergunakanlah pada tempatnya agar anda bisa berkarya. lebih baik tidak menggunakan cerita tutur yang kemudian diperkaya dengan telaah gaib yang kemudian berujung karya imajinasi dari orang. jika anda ingin membuktikan cerita tutur, buatlah kajian, bisa bekerjasama dengan sejarahwan profesional. anda akan dapat menemukan cerita tutur itu asli atau tidak. jika asli maka anda dapat membuat terobosan baru mengenai ilmu sejarah, jika tidak, anda harus legawa bahwa hal tersebut adalah kisah dari mulut ke mulut yang tidak bisa diangkat sebagai ilmu, yaitu ilmu sejarah
semoga damai selalu,,, Salam Rahayu.

No comments:

Post a Comment